Showing posts with label DUTCH COLONIAL. Show all posts
Showing posts with label DUTCH COLONIAL. Show all posts

Friday, January 26, 2024

PALEMBANG LOTUS SHAPED LACQUERED CONTAINER






TENONG LOTUS PALEMBANG
Palembang, Sumatera Selatan
Awal - Pertengahan Abad 20
Lakquer & Gild Diatas Kayu
Diameter 37 cm, Tinggi 42 cm
Lacquer & Motif ada lecet aus sedikit2, relatif masih baik

Origin : Palembang, South Sumatra, Indonesia
Early - Mid. 20th C
Lacquer & Gild on Solid Wood
Diameter Approx 37 cm, Height 42 cm

Tenong lotus Palembang mempunyai bentuk yg sangat sophisticated, sama seperti ukiran perak Aceh atw Bugis yang jg mempunyai crafmanship tingkat tinggi menjadikannya salah satu benda yg paling diminati karena keunikan & keindahannya.

Tenong lotus dipergunakan sebagai bagian 'hantaran' mempelai lelaki untuk mempelai wanita dalam upacara perkawinan budaya Palembang yg merupakan asimilasi budaya Melayu dan Cina / Peranakan.
Tenong yg setiap bagiannya terbuat dari kayu utuh yg dipahat membentuk stilisasi kuntum bunga lotus.
Bunga lotus dalam budaya Cina identik sebagai simbol harmoni perkawinan dan kemurnian, bunga yg hidup dalam 3 alam : akarnya menancap dalam tanah, batang sulur dalam air serta daun & bunga diudara.
Motif gambar pada tengah atas tutup tenong ini berupa burung 'Phoenix', mahluk ajaib yg mewakili sisi feminitas dalam budaya Cina. Sedangkan pada setiap bidang kelopak (medalion) bermotif berbagai macam bunga seperti lotus, krisan, bunga plum, peony dll yg juga identik sebagai bunga simbolis dalam budaya Cina.

Asimilasi percampuran budaya Melayu & Cina membentuk benda2 tradisi Palembang.
Palembang adalah salah satu pusat perdagangan yang ramai sejak jaman Sriwijaya. Kontak hubungan dengan Cina sudah terjadi sejak abad 7 hingga 13 Masehi ketika biksu-biksu Cina datang untuk belajar ilmu Agama Buddha di Sriwijaya. Migrasi dari Cina ke Sumatera juga banyak terjadi pada abad 17 - 18 Masehi.

Tehnik seni benda lacquer Palembang berasal langsung dari Cina daratan, pada 1813, 2 buah kapal besar dagang dari Canton & Amoy, Guangzhou tiba di Palembang membawa keramik, sutra dan benda-benda seni kerajinan lainnya. Palembang pada waktu itu adalah daerah perdagangan yang banyak menjual budak, kapas, lilin, rotan, madu, sarang walet, serbuk emas hingga bawang putih + merah dengan kualitas terbaik. Kesultanan yang berkuasa pada masa itu (dihancurkan Belanda pada 1821) meminta pula didatangkan pengrajin dari Cina untuk bekerja dan tinggal di kota Palembang. Pada saat itu tercatat sudah ada 1000 lebih pendatang Cina & Arab yang tinggal disana.

Benda lacquer umumnya terbuat dari kayu yang dipahat oleh pengrajin Melayu dan proses pembuatan motif prada lacquer dikerjakan oleh pengrajin Cina. Kerjasama yang menyatu antara kedua etnis ini kadang membuat sulit menarik garis tegas perbedaan mana benda untuk tradisi Cina Peranakan dan mana benda tradisi Melayu. Perbedaan dapat dilakukan hanya jika mencermati tehnik lukis, motif dan bahan dasar bendanya.

Price on requet

Thursday, July 27, 2023

2 PCS MALAY POEM IN JAVANESE ARABIC SCRIP PLATE #2

 


2 BUAH PIRING PANTUN MELAYU DENGAN HURUF ARAB JAWA
Keramik Transferware
Pertengahan abad 19 (1840 - 1860)
Buatan W. Adams & Sons, Inggris
Diameter sekitar 24 cm

Piring Eropa abad 19 untuk pangsa pasar Asia Tenggara terutama Indonesia
Bertuliskan pantun Melayu dalam bahasa Arab Jawa

Zold - Johor


Friday, July 19, 2019

MALAY POEM IN JAVANESE ARABIC SCRIP PLATE #1






PIRING PANTUN MELAYU DENGAN TULISAN ARAB JAWA
Keramik transferware 
Copeland Spode (?), Inggris
1853 - 1870
Diameter 25,5 cm tinggi 3 cm
Ada 1 hairline tipis, relatif masih baik

Piring buatan Eropa khusus untuk pangsa pasar Indonesia dan sekitarnya.
Bertuliskan dalam huruf Arab Jawa atau Arab Melayu atau lebih biasa kita sebut huruf 'Arab Gundul'.

Pada bagian tengah tertuliskan 8 pantun khas Melayu dan pinggirnya tertulis semacam puja-puji untuk perusahaan pembuat / penyalur piring ini : 'Anderson Hunt adalah pemiliknya, di Inggris dia mempunyai usaha yang sukses, Anderson Tolson nama perusahaannya, termasyur di Batavia'

Piring seperti ini selain menjadi koleksi museum juga dijumpai tertanam menghiasi dinding situs-situs penting di tanah Jawa.

1 piring :
Zold - Jkt

EUROPEAN DISH WITH ARABIC INSCRITION






PIRING EROPA DENGAN INSKRIPSI ARAB 
Keramik transferware
1860 - 1874
Buatan Petrus Regout, Maastricht, Belanda
Diameter 22,5 cm tinggi 3,2 cm
Ada lecet & cuil pada alas / bawah piring, relatif masih baik

Piring seperti ini oleh perusahaan keramik di Eropa dibuat khusus untuk umat muslim diwilayah Asia Tenggara, sulit ditemukan pada belahan dunia lain.
Kini setelah melalui proses perjalanan waktu sekitar 150 tahun, benda seperti ini menjadi langka dan menjadi koleksi berharga untuk pribadi ataupun museum.

Bagian tengah piring bertuliskan Allah Maha Esa, Nabi Muhammad utusan Allah, tiada Tuhan Selain Allah dan pada bagian pinggir berisikan motif nama 4 khalifah sahabat Nabi.

Ditanah Jawa juga dapat dijumpai piring serupa tertanam menghiasi dinding tempat bersejarah seperti makam Sunan Bonang di Tuban atau makam Sunan Gunung Jati di Cirebon

Foto piring motif serupa pada makam Sunan Gunuung Jati, Cirebon.
Ref. dr buku 'Antique Ceramics found in Indonesia' - Sumarah Adhyatman, p.117


1 buah piring :
Zold - Jkt

Monday, April 9, 2018

DUTCH COLONIAL ROSEWOOD CASKET











KOTAK 'ROSEWOOD' ERA KOLONIAL BELANDA
Batavia / Jawa, Indonesia
Abad 19
Kayu rosewood, perak dan kuningan
30 cm x 22,5 cm. Tinggi 14 cm

Batavia or Java, Indonesia
19th C
Rosewood, silver & brass
30 (W) x 22,5 (D) x 14 (H) in centimeter

Terbuat dari kayu rosewood dengan sistim pembuatan kayu Eropa.
Jenis kayu ini adalah keluarga genus Dalbergia, jika berasal ia berasal dari Cina pada benda-benda oriental kita mengenalnya sebagai kayu Swanci atau hongmu. Di Indonesia, terutama di Jawa, kayu genus ini kita kenal dengan nama Sonokeling.

Termasuk kayu eksotis yang mempunyai daya tahan tinggi terhadap pelapukan, kepadatan, kekerasan serta bobot yang mantap. Warnanya berfariasi dari coklat pucat kekuningan, kemerahan hingga coklat hitam pekat, semua tergangantung jenis masing-masing daerahnya.

Kotak seperti ini di Batavia / Jawa biasanya untuk menyimpan dokumen dan barang berharga atau perhiasan, berukuran sedikit lebih besar dari umumnya kotak kinangan 'Batavia'.
Dengan kondisi relatif masih baik, kotak ini dilengkapi logam perak kadar tinggi pada 2 handel, lubang kunci dan pada tombol-tombol 'pelindung' diatasnya. Engsel dan perangkat mesin kunci terbuat dari kuningan, salah satu 'gigi' atas pengunci sudah patah tapi tidak mempengaruhi fungsi kerja penguncian.

Benda kotak yang terbuat dari kayu eksotis dengan ornament logam perak yang mewarisi tradisi benda buatan V.O.C sebelumnya, tidaklah terlalu mudah dijumpai lagi di Indonesia. Mayoritas benda-benda seperti ini adalah milik orang Eropa yang tinggal di Indonesia pada masa penjajahan Belanda, seiring berakhirnya era itu, benda-benda seperti ini ikut 'hijrah' dengan pemiliknya yang kembali ke negara asalnya.

Zold - Bks

Friday, April 6, 2018

DUTCH COLONIAL SILVER MOUNTED BETEL BOX SET





















SET KOTAK KINANGAN ERA V.O.C
Batavia / Jawa, Indonesia
Akhir abad 17 atau awal abad 18
Perak kadar baik, kayu akar sutra Ambon, jati dan besi baja
Ukuran kotak :27,5 cm x 17 cm. Tinggi 11,3 cm
Berat biji kinangan 343 gram
Berat total 1432 gram

Batavia / Java, Indonesia
Late 17th C or early 18th C
Silver, Amboyna burl wood, teak wood and iron
Box size : 27,5 (W) x 17 (D) x 11,3 (H) in centimeter
Weight 1432 gram

Kotak kinangan kayu jenis 'burl' yang dihiasi lempemgan ukiran perak disekelilingnya, bagian engsel dan 'kaki' juga terbuat dari perak, sedangkan bagian dasar kotak terbuat dari kayu jati.

Ukiran perak pada benda yang berusia 200 tahun lebih ini sudah tidak lagi 100% sempurna, sedikit-sedikit pada ujung beberapa bagian telah cuil / patah, walau tidak terlalu signifikan mengurangi ke-indahan benda langka ini.
Bagian engsel paruh atas yang terkoneksi pada penutup juga telah hilang dan digantikan buatan baru, begitu juga rantai penahan tutup dan salah satu 'handle' telah digantikan baru. Pada interior kotak, penutup kayu untuk ruang kecil tepi kanan juga sudah tidak ada.

Pada kelengkapan biji kinang masih terbilang baik, hanya 1 buah tempat kapur telah tidak ada dan ekor 'kuda' kacip telah patah / hilang (bagian penyobek buah pinang). Pun gilding pada atas 2 buah cepuk biji kinangan telah digilding ulang kembali. Sangat jarang menemukan kotak kinangan era V.O.C seperti ini yang masih dilengkapi dengan biji kinangannya, walau terbuka kemungkinan adanya perbedaan jangka waktu pembuatan antara kotak dan isinya.

Bentuk kotak jenis kayu eksotis yang dilengkapi ornament perak ini adalah identik sebagai benda yang diakomodasi pembuatannya oleh V.O.C, persekutuan dagang Belanda yang memonopoli perniagaan dan aktifitas ekonomi di Asia Tenggara terutama Indonesia sekitar abad 17 hingga 18 (1602 - 1799)

Diperuntukkan bagi para pejabat dan pengusaha Eropa (terutama Belanda) yang bermukim di Batavia atau Jawa. Kebiasaan menginang ini adalah bentuk adaptasi dari budaya setempat, sekaligus sebagai bentuk 'ritual' yang mungkin sangat eksotis dan 'prestise' buat mereka pada saat itu.

Melalui V.O.C, benda ini dibuat oleh para pengrajin kayu dan logam yang bermukim di Batavia, bahannya di import dari daerah / negara lain yang masih dalam jaringan bisnisnya.
Para pengrajin ini terdiri dari berbagai macam etnis, diantaranya etnis Melayu, India, Cina dan Eropa (terutama Eropa Timur).

Ukiran motif pada kotak ini berupa sulur dan stilisasi bunga lotus adalah khas dari ciri ukiran pengrajin perak dari India untuk benda kolonial di Batavia abad 17 - 18. Motif dan komposisi ukiran ini kadang cukup serupa dengan hiasan perak Melayu, terutama yang berasal dari Sulawesi. Hal ini dapat dipahami karena eratnya pengaruh budaya India di Sulawesi Selatan (Makassar & Bugis) sebelum masuknya Islam pada pertengahan abad 16.

Biji kinang kemungkinan besar dibuat oleh pengrajin perak Cina di pulau Jawa, bentuk ukiran dengan dimensi yang lebih variatif menjadi cirinya. Senada dengan kotaknya yang dibuat dengan tingkat 'kepadatan' ukiran yang sama, motif bijih kinang juga mengarah pada motif selera orang Eropa di Batavia (terlihat pada pinggir ukiran bunga). Hanya motif bagian atas penutup 'gilding' yang sedikit mengarah pada kebiasaan pengrajin perak etnis cina (terlihat motif burung, buah delima dan sejenis bunga tipe '4 musim' Cina)

Mayoritas kotak kinangan kolonial Batavia walau dikerjakan oleh pengrajin perak berbagai etnis semua tidak menonjolkan ciri utama etnis masing-masing. Lebih cenderung membentuk citra karakter baru sebagai benda kolonial Batavia.
Percampuran bentuk juga terlihat nyata, bentuk 'medallion' yang mendasari pola utama kotak ini identik sebagai komposisi bentuk dari Cina, juga pada 'handle' mempunyai bentuk global antara wujud 'Ruyi' atau kelelawar Cina. Semua itu kemudian di-isi hiasan motif bunga dan sulur India dan dibatasi oleh detail-detail motif Eropa.

Bentuk pola dan komposisi seperti ini kemungkinan tetap berlanjut hingga akhir abad 19atau awal abad 20, lama setelah masa V.O.C telah berakhir. Beberapa benda kotak kinang Peranakan Cina dan Melayu masih mengadaptasi pola seperti ini, penggunaan kayu eksotis dan hiasan logam perak, walau dengan unsur motif ukiran yang mewakili kecenderungan etnis masing-masing.

Zold - Bekasi