INDONESIAN FOLK & PRIMITIVE ART / ETHNOGRAPHICA & ANCIENT ART patinantik@gmail.com +62-878-3901-8182
Showing posts with label FOLK ART. Show all posts
Showing posts with label FOLK ART. Show all posts
Tuesday, November 26, 2019
WAYANG BEBER
WAYANG BEBER
Pewarna sintetis diatas kain mori
Pertengahan abad 20 / 1940 - 1960an
Pacitan, Jawa Timur, Indonesia
80 cm x 200 cm
Ada beberapa lubang / sobek karena pemakaian dan serangga, sebagian besar diluar area gambar
Wayang Beber diperkirakan sudah ada sejak abad 11 masa kerajaan Jenggala sebelum era Majapahit di pulau Jawa.
Media awal wayang ini kebanyakan di sungging / lukis diatas kertas serat kayu / daluang, penggunaan media kain mori diperkirakan baru berkembang pada awal / pertengahan abad 20 hingga penggunaan kanvas pada akhir abad 20.
Bentuk wayang menyerupai bentuk wayang kulit, baik sunggingan maupun anotominya, hanya pada Wayang Beber bentuk 'mata' wayang berjumlah 2 buah tidak seperti pada Wayang Kulit yang mayoritas hanya 1 buah.
Dalam 1 lakon pementasan Wayang Beber terdiri dari beberapa gulungan.
Panjang 1 gulungan wayang Beber klasik umumnya berfariasi sekitar 2 meter hingga 4 meter yang terdiri dari 2 hingga 4 adegan. Setiap adegan biasanya dipisahkan dengan gambar kayon atau 'Gunungan'.
Dalam pertunjukan, gulungan dibentangkan dengan jarak sekitar 70 cm hingga 1 meter menggunakan 2 buah gagang kayu (seligi) yang berfungsi sebagai tiang sekaligus penggulung sunggingan Wayang Beber.
Tiang yang ditancapkan diatas kotak kayu (yg jg berfungsi sbg tempat penyimpanan) dapat menggulung bagian sunggingan dari satu adegan ke adegan lain sesuai dengan jalannya pementasan.
Wayang Beber yang juga berfungsi sebagai sarana ritual untuk 'luwatan' merupakan cikal bakal dari perkembangan terbentuknya Wayang Kulit.
Walau perkembangannya di tanah Jawa semakin langka dan sulit dijumpai pada akhir abad 19 / awal abad 20, Wayang Beber masih dilestarikan di daerah sekitar Pacitan, Jawa Timur dan Wonosari, Gunung Kidul Jogjakarta.
Foto Wayang Beber dari dusun Gelaran - Gunung Kidul, buatan era Pukubuwono II (1711 - 1749) ketika dipentaskan pada tahun 1902 dirumah Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Jogjakarta. Foto oleh Kassian Cephas.
Wayang Beber milik Kraton Mangkunegaran, Surakarta.
Wayang Beber dari Gedompol, Pacitan buatan tahun sekitar 1690
Sumber ke 4 foto diatas :Wikipedia
Pementasan Wayang Beber Pacitan pada tahun 2012
Sumber foto : Fotografi
1 gulung Wayang Beber :
Zold - Jkt
Friday, November 24, 2017
JAVANESE KINNARA KINNARI
KINARA KINARI
Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
Original
Awal abad 20
Cat tulang pewarna alami & prada diatas kayu nangka
Kinara : 47 cm tinggi 38 cm
Kinari : 44 cm tinggi 34 cm
Yogyakarta, Indonesia
Original
Early 20th C
Bone base natural & gold pigments on jackfruit wood
Kinnara : (W) 47 cm (H) 38 cm
Kinnari ; (W) 44 cm (H) 34 cm
Figur yang berasal dari tradisi Hindu - Buddha yang sudah ada di Nusantara sejak masuknya agama-agama tersebut diawal Masehi.
Kinara sosok sang laki / jantan dengan pasanganya Kinari (perempuan / betina) digambarkan sebagai sosok mahluk surgawi separuh manusia separuh burung. Kehadirannya untuk memproteksi segala hal kebaikan di dunia, mewakili keindahan, seni, irama musik (suara merdu), harmonisasi dan ikatan cinta kesetiaan karena keduanya merepresentasikan pasangan yang paling hakiki (tercipta satu sama lain).
Perbedaan konsep visual untuk Kinara-Kinari dalam agama Hindu dengan Buddha mungkin hanya sedikit sekali, semua kembali pada tradisi seni setempat dimana kedua mahluk ini diwujudkan. Walau ada kecenderungan sosok ini dalam agama Hindu berwujud manusia hanya pada bagian kepala, selebihnya berbentuk burung. Sedangkan dalam agama Buddha lebih sering berwujud manusia dari kepala hingga pinggang atas, sedangkan dari pinggang kebawah berwujud kaki burung yang dilengkapi sayap terbentang.
Pudarnya masa kejayaan Hindu-Buddha di tanah Jawa pada perkembangan era berikut tidak membuat figur ini hilang begitu saja dalam kehidupan masyarakatnya. Ber-evolusi secara perlahan merasuk dibawah sadar menjadi bagian tradisi budaya Jawa tampa mengaitkan secara erat dengan unsur agama muasalnya. Hal sama juga terjadi pada banyak jenis tradisi Jawa dan Nusantara lainnya.
Metamorfosa bentuk fisik menyesuaikan budaya setempat pada Kinara-kinari ini bisa menjadi unik dan drastis. Seperti misal kehadiran bentuk gelung rambut konde Jawa pada sang Kinari akan menjadi pembeda yang dramatis dengan bentuk muasal aslinya. Perubahan / metamorfosa ini tidak berdiri sendiri, secara fisik & magna erat kaitannya dengan benda tradisi lainnya seperti Garuda / Manuk-beri, Gambyong wayang hingga patung Roloblonyo.
Secara penempatan-pun berkolerasi / mirip dengan salah-satu atau salah-dua dari benda yang disebutkan diatas, ditempatkan dimuka atau dalam ruang sentong joglo, seakan-akan benda ini mewakili kehadiran Manuk-beri sekaligus Roloblonyo.
Jika Manuk-beri dan Loroblonyo dipraktekkan secara relatif luas dalam tradisi Jawa baik dikalangan Priyayi hingga rakyat kebanyakan, tidak demikian halnya dengan Kinara-Kinari.
Hanya ditemukan dalam lingkup kecil seni rakyat, Kinara-Kinari menjadi jejak tradisi terakhir perjalanan mahluk dari surga ke tanah Jawa sejak jaman kerajaan Hindu-Buddha.
Zold - Surabaya
Wednesday, June 8, 2016
JAVANESE WOODEN PUPPET ' GOLEK GENDONG "
GOLEK GENDONG
Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia
Original
1960 - 1970an
Kayu sengon ( ? ), pigmen pewarna, cat minyak
Tinggi 77 cm
Wonosobo, Central Java, Indonesia
Original
1960 - 1970's
Sengon wood, pigments, oil paint
Height 77 cm
Zold - Surabaya
Thursday, October 1, 2015
PAIR OF 'MANUK BERI' JAVANESE MYTHICAL BIRD
SEPASANG MANUK BERI SUNGGING
Kebumen (?), Jawa Tengah, Indonesia
Original
1920 - 1940an
Kayu dan pigmen pewarna alam
Jantan : tinggi 18,5cm, lebar 12,7cm
Betina : tinggi 17,8cm, lebar 10,2cm
Kebumen (?), Central Java, Indonesia
Original
1920 - 1940
Wood and natural pigment
Male : Height 18,5cm, wide 12,7cm
Female : Height 17,8cm, wide 10,2cm
Zold - Surabaya
Monday, August 24, 2015
GAMBYONG JAVANESE SHADOW PUPPET MASCOT
GAMBYONG WAYANG KULIT
Jawa Tengah, Indonesia
1920 - 1940
Original
Kayu nangka, bambu, kain dan pigment pewarna
Tinggi 50cm
Central Java, Indonesia
1920 - 1940
Original
Jackfruit wood, bamboo, cloth and pigments
Height 50cm
Gambyong seperti maskot atau 'pawang' untuk wayang kulit, biasa hanya ada 1 atau sepasang saja dalam 1 peti wayang.
Dimainkan di akhir penutup pertunjukan wayang kulit, menyampaikan intisari filosofi cerita dengan keceriaan.
Jumlahnya tentu jauh lebih minim daripada wayangnya, dengan perbandingan 1 peti wayang banding 1 atau 2 buah gambyong.
Ada gantian baru pada lengan kanan bagian bawah gambyong berwajah primitif ini, sistim sambungan lengannya yang agak unik, engsel dan poros putar di 4 titik.
Zold - Surabaya
Subscribe to:
Posts (Atom)




