INDONESIAN FOLK & PRIMITIVE ART / ETHNOGRAPHICA & ANCIENT ART patinantik@gmail.com +62-878-3901-8182
Thursday, December 28, 2017
SOUTH SULAWESI KENDI
KENDI GERABAH BUGIS
Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia
Original
Akhir abad 19 / awal abad 20
Gerabah terakota ukir cukil
Diameter 18 cm tinggi 15 cm
Bone, South Celebes, Indonesia
Original
Late 19th C / Early 20th C
Carved terracotta
(D) 18 cm (H) 15 cm
Motif dekorasi kendi gerabah dari Bone umumnya menunjukkan pengaruh Islam yang masuk pada abad 16. Sedangkan bentuk dan fungsi banyak berasal dari pengaruh Cina dan India yang hadir sebelumnya.
Bentuk dan dekorasi cukup bervariasitif, beberapa diantaranya termuat dalam buku 'Kendi' karya Sumarah Adhyatman, terbitan Himpunan Keramik Indonesia 1987, halaman 136 - 137.
Selain kelangkaan dan perjalanan sejarahnya, kendi dan gerabah dari Sulawesi Selatan terkenal kualitas ke-indahan pengerjaan motifnya. Benda seperti ini menjadi koleksi wajib museum Nasional dan berbagai museum di Eropa.
Identifikasi dan sedikit pengkajian mengenai kendi sejenis dapat ditelusuri pada jurnal / catatan AUSTRALIAN MUSEUM (1993)
1 buah kendi :
Zold - Makassar
Sunday, December 17, 2017
PALEMBANG RITUAL WATER VESSEL
KENDI CUCUK EMPAT PALEMBANG
Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
Original
Awal abad 20
Gerabah terakota dengan lacquer / gincu dan cat serbuk emas
Diameter 20 cm, tinggi 26,5 cm
Palembang, South Sumatra, Indonesia
Original
Early 20th C
Terracotta, lacquer and gold powder paint
(D) 20 cm (H) 26,5 cm
Kendi yang disebut juga 'Kendi Air Mawar', dipergunakan untuk upacara adat seperti perkawinan misalnya.
Bentuk yang awalnya mungkin di-adopsi dari kendi Cina dan sudah ada sejak abad 7 - 10 dalam budaya Kerajaan Sriwijaya Palembang.
Benda sejenis dari koleksi 'mantan' Museum Adam Malik termuat dalam buku 'Kendi' karya Sumarah Adhyatman halaman 130 :
- Kendi gerabah bercorot empat yang tegak mengitari leher di tengah dan disambung padanya oleh bentuk-bentuk segitiga. Dicat merah dan kuning emas dengan ban rangkaian bunga di atas latar hitam pada bahu...
Reff ; Kendi, Sumarah Adhyatman
Terbitan Himpunan Keramik Indonesia 1987
Zold - Makassar
Friday, November 24, 2017
JAVANESE ROYAL NOBILITY SILVER SERVING PLATE
PIRING SAJI NINGRAT JAWA
Solo, Jawa Tengah, Indonesia
Original
Abad 19
Perak kadar baik
Diameter 27,5 cm tinggi 17 cm
Berat 1295 gram
Solo, Central Java, Indonesia
Original
19th C
Solid silver
Diameter 27 cm height 17 cm
Weight 1295 grams
Dengan bentuk proporsi, anatomi, material serta citarasa yang baik, benda ini memperlihatkan status pemiliknya sebelumnya.
Mengambil bentuk Victorian Rococo milik Eropa benda ini biasanya diperuntukkan kalangan ningrat dan aristokrat di Jawa. Pada masa pemerintahan kolonial di Jawa, perak adalah bentuk kekayaan yang cukup diproteksi dan dijadikan sebagai akomoditas monopoli perdagangan oleh VOC. Benda perak dipesan kepada mereka dan menugaskan pembuatannya kepada pengrajin-pengrajin perak bangsa Eropa, India, Cina dan Melayu yang bermukim di kota-kota besar seperti Batavia, Surabaia dll, kadang bahkan dipesan hingga ke daratan Eropa.
Benda ini mungkin menjadi bagian dari sistem tersebut diatas, tetapi mungkin juga benda ini pembuatannya atas pesanan keluarga bangsawan di Solo kepada para pengrajin perak di Kotagede.
Kerajinan perak Kotagede adalah salah satu yang terbaik di tanah Jawa, keluarga kesultanan Jogja dan Surakarta mempunyai pertalian erat dengan kota ini, sebagaimana diketahui Kotagede adalah bekas ibukota Mataram Islam yang menjadi muasal ke-dua kesultanan tersebut.
Banyak benda perak ke-dua kesultanan ini dibuatkan secara khusus oleh pengrajin perak Kotagede.
Ada 1 mata 'skrup' yang telah hilang tetapi tidak berpengaruh pada kekuatan koneksinya. Juga semacam 'retak' minor pada dasar piring saji ini menunjukkan usianya yang sudah uzur, tidak mempengaruhi penampilannya. Secara keseluruhan benda ini relatif utuh dan baik
Zold - Sby
JAVANESE KINNARA KINNARI
KINARA KINARI
Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
Original
Awal abad 20
Cat tulang pewarna alami & prada diatas kayu nangka
Kinara : 47 cm tinggi 38 cm
Kinari : 44 cm tinggi 34 cm
Yogyakarta, Indonesia
Original
Early 20th C
Bone base natural & gold pigments on jackfruit wood
Kinnara : (W) 47 cm (H) 38 cm
Kinnari ; (W) 44 cm (H) 34 cm
Figur yang berasal dari tradisi Hindu - Buddha yang sudah ada di Nusantara sejak masuknya agama-agama tersebut diawal Masehi.
Kinara sosok sang laki / jantan dengan pasanganya Kinari (perempuan / betina) digambarkan sebagai sosok mahluk surgawi separuh manusia separuh burung. Kehadirannya untuk memproteksi segala hal kebaikan di dunia, mewakili keindahan, seni, irama musik (suara merdu), harmonisasi dan ikatan cinta kesetiaan karena keduanya merepresentasikan pasangan yang paling hakiki (tercipta satu sama lain).
Perbedaan konsep visual untuk Kinara-Kinari dalam agama Hindu dengan Buddha mungkin hanya sedikit sekali, semua kembali pada tradisi seni setempat dimana kedua mahluk ini diwujudkan. Walau ada kecenderungan sosok ini dalam agama Hindu berwujud manusia hanya pada bagian kepala, selebihnya berbentuk burung. Sedangkan dalam agama Buddha lebih sering berwujud manusia dari kepala hingga pinggang atas, sedangkan dari pinggang kebawah berwujud kaki burung yang dilengkapi sayap terbentang.
Pudarnya masa kejayaan Hindu-Buddha di tanah Jawa pada perkembangan era berikut tidak membuat figur ini hilang begitu saja dalam kehidupan masyarakatnya. Ber-evolusi secara perlahan merasuk dibawah sadar menjadi bagian tradisi budaya Jawa tampa mengaitkan secara erat dengan unsur agama muasalnya. Hal sama juga terjadi pada banyak jenis tradisi Jawa dan Nusantara lainnya.
Metamorfosa bentuk fisik menyesuaikan budaya setempat pada Kinara-kinari ini bisa menjadi unik dan drastis. Seperti misal kehadiran bentuk gelung rambut konde Jawa pada sang Kinari akan menjadi pembeda yang dramatis dengan bentuk muasal aslinya. Perubahan / metamorfosa ini tidak berdiri sendiri, secara fisik & magna erat kaitannya dengan benda tradisi lainnya seperti Garuda / Manuk-beri, Gambyong wayang hingga patung Roloblonyo.
Secara penempatan-pun berkolerasi / mirip dengan salah-satu atau salah-dua dari benda yang disebutkan diatas, ditempatkan dimuka atau dalam ruang sentong joglo, seakan-akan benda ini mewakili kehadiran Manuk-beri sekaligus Roloblonyo.
Jika Manuk-beri dan Loroblonyo dipraktekkan secara relatif luas dalam tradisi Jawa baik dikalangan Priyayi hingga rakyat kebanyakan, tidak demikian halnya dengan Kinara-Kinari.
Hanya ditemukan dalam lingkup kecil seni rakyat, Kinara-Kinari menjadi jejak tradisi terakhir perjalanan mahluk dari surga ke tanah Jawa sejak jaman kerajaan Hindu-Buddha.
Zold - Surabaya
Wednesday, November 1, 2017
PAMINGGIR PEOPLE CEREMONIAL CLOTH / TAMPAN #6
KAIN TENUN TAMPAN #6
Lampung, Sumatera Selatan, Indonesia
Original
Abad 19
Kain benang katun pewarna alam
80 cm x 40 cm
Lampung, South Sumatera, Indonesia
Original
19th C
Handspun cotton supplementary weft weave, natural dyes
80 cm x 40 cm
Price on request
Subscribe to:
Posts (Atom)


